Khamis, 30 April 2009

Tanya Sang Anak



Konon pada suatu desa terpencil
Terdapat sebuah keluarga

Terdiri dari sang ayah dan ibu
Serta seorang anak gadis muda dan naif!

Pada suatu hari sang anak bertanya pada sang ibu!

Ibu! Mengapa aku dilahirkan wanita?
Sang ibu menjawab,”Kerana ibu lebih kuat dari ayah!”

Sang anak terdiam dan berkata,”Kenapa jadi begitu?”


Sang anak pun bertanya kepada sang ayah!

Ayah! Kenapa ibu lebih kuat dari ayah?
Ayah pun menjawab,”Kerana ibumu seorang wanita!!!

Sang anak kembali terdiam.


Dan sang anak pun kembali bertanya!

Ayah! Apakah aku lebih kuat dari ayah?
Dan sang ayah pun kembali menjawab,”Iya, kau adalah yang terkuat!”

Sang anak kembali terdiam dan sesekali mengerut dahinya.

Dan dia pun kembali melontarkan pertanyaan yang lain.

Ayah! Apakah aku lebih kuat dari ibu?
Ayah kembali menjawab,”Iya kaulah yang terhebat dan terkuat!”

“Kenapa ayah, kenapa aku yang terkuat?” Sang anak pun kembali melontarkan pertanyaan.

Sang ayah pun menjawab dengan perlahan dan penuh kelembutan.
“Kerana engkau adalah buah dari cintanya!

Cinta yang dapat membuat semua manusia tertunduk dan terdiam.
Cinta yang dapat membuat semua manusia buta, tuli serta bisu!


Dan kau adalah segalanya buat kami.

Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami.

Tawamu adalah tawa kami.

Tangismu adalah air mata kami.

Dan cintamu adalah cinta kami.


Dan sang anak pun kembali bertanya!
Apa itu Cinta, Ayah?

Apa itu cinta, Ibu?
Sang ayah dan ibu pun tersenyum!
Dan mereka pun menjawab,”Kau, kau adalah cinta kami sayang..”

-

Baca seterusnya......

Surat dari kekasih

Untukmu yang selalu Kucintai,
Saat kau bangun di pagi hari, Aku memandangmu dan
berharap engkau akan berbicara kepadaKu., bercerita,
meminta pendapatKu, mengucapkan sesuatu untukKu
walaupun hanya sepatah kata.

Atau berterima kasih kepadaKu atas sesuatu hal yang
indah yang terjadi dalam hidupmu pada tadi malam, kemarin, atau waktu yang lalu….
Tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja…
Tak sedikitpun kau menyedari Aku di dekat mu.

Aku kembali menanti saat engkau sedang bersiap,
Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKu,
tetapi engkau terlalu sibuk…

Di satu tempat, engkau duduk tanpa melakukan apapun.
Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu.
Aku berfikir engkau akan datang kepadaKu, tetapi engkau
berlari ke telefon dan menelefon seorang teman untuk sekadar berbual-bual.

Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku
menanti dengan sabar sepanjang hari. Namun dengan
semua kegiatanmu Aku berfikir engkau terlalu sibuk
untuk mengucapkan sesuatu kepadaKu.

Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang ke
sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara
kepadaKu, itulah sebabnya mengapa engkau tidak
sedikitpun menyapaKu.

Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan
melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKu
dengan lembut sebelum menjamah makanan yang kuberikan,
tetapi engkau tidak melakukannya…..

Ya, tidak mengapa, masih ada waktu yang tersisa dan
Aku masih berharap engkau akan datang kepadaKu,
meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya
seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.

Setelah tugasmu selesai, engkau menghidupkan TV, Aku
tidak tahu apakah kau suka menonton TV atau tidak,
hanya engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak
waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun
dan hanya menikmati siaran yang ditampilkan, hingga waktu-
waktu untukKu dilupakan.

Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menikmati
makananmu tetapi kembali engkau lupa menyebut namaKu
dan berterima kasih atas makanan yang telah Kuberikan.
Saat tidur Kufikir kau merasa terlalu lelah.

Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
kau melompat ke tempat tidurmu dan tertidur tanpa
sepatahpun namaKu kau sebut. Tidak mengapa kerana mungkin
engkau masih belum menyedari bahawa Aku selalu hadir untukmu.
Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sedari.

Aku bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku sangat menyayangimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata darimu, ungkapan isi hatimu, namun tak kunjung tiba.

Baiklah….. engkau bangun kembali dan kembali Aku
menanti dengan penuh kasih bahawa hari ini kau akan
memberiKu sedikit waktu untuk menyapaKu…

Tapi yang Kutunggu … ah tak juga kau menyapaKu.
Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan Subuh lagi
kau masih tidak mempedulikan Aku.

Tak ada sepatah kata, tak ada seucap doa, tak ada
pula harapan dan keinginan untuk sujud kepadaKU….
Apakah salahKu padamu …? Rezeki yang Kulimpahkan,
kesihatan yang Kuberikan, Harta yang Kurelakan, makanan
yang Kuhidangkan , Keselamatan yang Kukurniakan,
kebahagiaan yang Kuanugerahkan, apakah hal itu tidak
membuatmu ingat kepadaKu ???

Percayalah, Aku selalu mengasihimu, dan Aku tetap
berharap suatu saat engkau akan menyapaKu, memohon
perlindunganKu, bersujud menghadapKu … Kembali kepadaKu.

Yang selalu bersamamu setiap saat,
Tuhanmu

~Khalil Gibran~

Baca seterusnya......

Kitakah perempuan itu?


Wanita acuan al-Quran

Wanita yang aku sayangi
Adalah pencinta agama Tuhannya
Yang mengalir rasa cinta.. takut dan harap
Terus menguasai perjalanan kehidupannya
Dari waktu ke waktu
Sehingga perjanjian antara jasad dan nyawanya berakhir

Wanita yang aku rindui
Adalah yang di mata dan wajahnya
Terpancar sinar nur Ilahi
Lidahnya basah dengan zikrullah
Sentiasa muraqabah
Setiap waktu sibuk membaiki diri
Di sudut hati kecilnya sentiasa membesarkan Allah

Wanita yang aku cintai
Yang menutup auratnya dari pandangan ajnabi
Kehormatan dirinya menjadi mahal nilainya
Mujahadatunnafsi adalah perjuangan yang mesti
Muhasabatunnafsi dilakukan selalu
Disanjung tinggi penduduk langit dan bumi

Wanita yang aku dambai
Yang mendekatkan hatiku yang jauh dari Allah
Tika aku di sana dilamar duniawi
Hadirnya memperkasa Akhiratku
Sewaktu aku alpa dan leka
Lembut manjanya mentazkirah diri
Di kala aku disapa bahana
Belai kasihnya menginsafkan naluri

Wanita yang aku kasihi
Yang bersyukur pada apa yang ada
Yang bersabar pada apa yang tiada
Cinta pada hidup yang sederhana
Demi kebahagiaan abadi di sana

Wanita yang aku sukai
Menjadi dian pada dirinya sendiri
Yang menjadi pelita untuk putera-puteriku
Yang bakal dilahirkan
Untuk menyambung perjuanganku
Menegak kalimah Allah nan qudus
Mendaulat perjuangan suci Junjungan Mulia

Wanita yang aku impi
Adalah wanita yang luhur haqiqi
Muslimah yang setia sejati
Mu'minah yang taat pada Ilahi.


Baca seterusnya......

simpanlah di ingatanmu


Kenalkah kau suara air menitis pada keras batu

mengukir wajah tekun pada alur dan kerikil tajam

sepi di gua menafsir lembut zikir syahdunya

melarik runcing stalaktit

melentur cerancangan stalagmit

gua hidup menghampar dalam gelapmu

ketabahan dan ketekunan jitu

manusia bergelar guru.


Masih ingatkah kau pada gelita malam

tatkala manusia nanar dalam pencarian

mencari jejak yang retak

meneka takdir mimpi

dengan lembut dia berdiri menabur bakti

titis demi titis luruh

terbakar dan kehilangan diri.


Lupakah kau pada pengukir itu

tekun mengukir mimpi

melarik cinta hari muka

berapa banyak debu pahit

berjelaga dalam hati

bersawangan di ufuk jantung,hingga arca hidupnya retak seribu

mimpimu juga ditenung diukir

sehingga menjadi lukisan abadi.


Dialah

lembut suara air yang mengalir di tengah gua batu

guru yang faham erti kepayahan

menyulam pekerti dalam manis budi.


Dialah

dian kerdil suluhan pencarian

pendidik yang menerima kepayahan

dengan senyum dan rela.


Dialah

penekun tabah mengukir waktu

pengajar bermandi keringat

dalam debu dan batu- batu.


Dialah

manusia kecil yang sering memberi

apa yang kita tidak tahu

menafsir rahsia ilmu

yang tertulis dengan bahasa kalbu.


Simpanlah di ingatanmu

diksi kata pujangga;

Guru laksana ombak

tak jemu-jemu mendambai pantai

Guru seumpama dian kerdil

membakar diri menerangi cahaya

Guru ibarat pengukir

menitip jejak perjalanan hari muka

Guru bagaikan suara air di gua

tekun titis lembut membelah batu.


A.Halim Ali,

Pnsyrh Sastera ,UPSI

Baca seterusnya......

Rabu, 22 April 2009

Azimat Ibunda

Langit kirmizi menghantar dirimu
menuju jalan pulang
hari-hari indah bersamamu
bertabur di tanah kenangan
wajah merona simpati kau tatapi
buat kali terakhir
sedih dan sayu dari kamar atma
mengundang air mata

hanya rindu dan doa buatmu
semoga kau tenang dan bahgia
agar syurga menjadi milikmu
bukan hanya di telapak kakimu

keredhaan Allah terletak pada keredhaan ayah ibu

menumpang di segenap ruang
yang ada di lubuk perkasihan
begitu indah setiap detik di dalam rahimmu
sehingga teramat asyik setiap saat di pangkuaanmu
keperitan itu kau rasa indah demi anakmu

setitis air mata ibu
yang gugur kerana kesedihan
segaris luka di hati ibu kerna kederhakaan
tertutup pintu syurga jika tiada keampunannya
azimat ini kutanam di lubuk hati yang dalam

di tirai malam aku bersandarkan
pada dinding kepiluan
bersenandungkan merdu suara alam
terlena dirajutan rindu
tiada yang terindah di dunia
dapat mengganti hilangmu
pilihan yang terbaik takkan dapat
mengisi relung hatiku....


video

Bait kata yang menyentuh jiwa
tIaP x dEnGar Nasyid ni
bUatkAn aku nAk tErbAnG bAlik Kampung
Cium Peluk mAk, miNtA MaAf Byk2 dEnGan Mak
rIndU dgn mAk yg Tak dApaT ku LuAh


MAK
jasamu tak mampu ku balas walau sedikitpun,
redhamu penentu kebahagiaanku di dunia dan akhirat,
hanya doa yang mampu ku utuskan kdpNya,
moga redha Allah selalu bersama mak
moga mak sihat untuk jalankan kewajipan sebagai hamba,
moga mak berbahagia di dunia dan akhirat,
moga mak ditunjukkan jalan yg lurus,
moga hati mak tetap teguh dengan Islam,
moga mak menjadi hamba yg solehah disisiNya,
moga mak selalu mengingatiku dlm setiap bisikan doa,
moga mak menyayangi aku selamanya.


MAK
utk setiap deru nafasmu dalam mengasuh dan mendidikku
untuk setiap titisan susu yang kuminum
untuk setiap keringat yang mengalir untuk membesarkanku
untuk kasih-sayang yang aku tahu selalu ada untukku
untuk aliran darah yang mengalir dalam jasadku
untuk setiap detik usiamu yang kau luangkan untukku
sesungguhnya
hanya Allah yang mampu membalasnya
Moga ia diganti syurga di akhirat kelak
Amin Ya Rabb...

-sYuRgaKu Di bAwAh TeLapAk kAkimU-



' Tiada yang terindah di dunia yang dapat menggantikan mu'


...Rindu mak di kampung...
(AKU INGIN PULANG)


Baca seterusnya......

Selasa, 21 April 2009

Teman sejati

TEMAN SEJATI
Mengerti ketika kamu berkata "aku lupa...".
Menunggu selamanya ketika kamu berkata "tUngGu sebentar".
Tetap di situ ketika kamu berkata "tinggalkan aku sendiri".
Membuka pintu meskipun kamu belum mengetuk dan berkata "b0lehkah saya masuk?"


video

Baca seterusnya......

Erti Syukur....

andai aku yang di sini

Sedih, terharu, sayu,hiba.....betapa dia terpaksa mengutip makanan yang dibuang untuk menyambung nyawa. Dia sepatutnya bergembira bersama teman-teman melayari zaman keindahan kanak-kanak...pernahkah perkara sebegini berlaku kepada kita? Keluarga kita?

Ada yang lebih bernasib malang dari kita....

Betapa bertuahnya diri ini. walaupun tiada harta berjuta, tiada emas bertimbun, tidak memiliki semua yang aku ingini. Aku masih dapat hidup dengan sempurna di dunia ini...

Alhamdulillah ya Allah....

Baca seterusnya......

Semoga berjaya


keliru


Macam mana boleh berlaku ni, esok Final Exam akan bermula...
tarra....sUka pun ada, teruja pun ada, takut pun ada, suspens pun ada...pendek kata,macam2 ada...

suka sebab dah tak sabar nak balik kampung.rindu mak dengan ayah...anak sedara baru pun ada yang tak tengok lagi...rindu2, sabar itu istana iman...

takut sebab stdy x sangat....baca mmg baca, tapi main pun banyak gak...insyaAllah, Allah selalu ada dengan aku.berikan aku ingatan yang kuat dan kefahaman yg mudah ya Allah...tiadalah daya upayaku melainkan dengan izinmu.

suspens pun ada...macam mana agaknya rupa soalan yang keluar esok.hehehe.

Yang paling aku terharu, kenapa ia selalu muncul disaat aku tidak memerlukannya. bukan sedikit, tapi aku tak perlu langsung! ku cuba menghalaunya....ia datang kembali

M.A.L.A.S (hehehe)

Tapi takpe, Allah ada.
Ya Allah...ku yakin Engkau bersamaku.

Usaha + Doa + Tawakkal = Kejayaan

cayyok!
cayyok!
cayyok!

Doakan kejayaan kita bersama....

All the best,
May Allah bless u.
Amin



Baca seterusnya......

Sabtu, 18 April 2009

Kemiskinan bukan halangan...

Nik Nur Madhihah Pelajar Cemerlang SPM 2008



Kemiskinan tidak menghalang adik Madhihah utk berjaya

Siapa sangka rumah yang kelihatan hampir roboh ini menyimpan sebutir permata berharga yang bakal menyinar suatu hari nanti.

Bahkan tidak seorang juga yang terfikir bahawa permata yang berlindung di rumah ini telah mencipta sejarah dengan memperoleh keputusan cemerlang dalam Sijil Pelajaran Malaysia (SPM) yang diumumkan kelmarin. Nik Nur Madihah Nik Mohd. Kamal, 18, mencatat keputusan cemerlang 19 A1 dan satu A2.Kejayaan pelajar dari Sekolah Menengah Agama Arab Maahad Muhammadi (Perempuan), Kota Bharu, Kelantan ini agak istimewa kerana dia adalah anak seorang nelayan berbanding pelajar cemerlang SPM sebelum ini yang datang dari keluarga yang agak senang.

Dia yang pernah menjadi antara pelajar terbaik peperiksaan Penilaian Menengah Rendah (PMR) peringkat kebangsaan 2006, bertukar menjadi selebriti sekelip mata kerana kecemerlangannya itu.

Malah wartawan yang berpusu-pusu untuk menemu bualnya terpaksa menunggu giliran untuk memasuki rumah yang disewa bapanya dengan harga RM90 sebulan kerana ia terlalu sempit dan agak uzur.

Rumah kecil itu menjadi gambaran kehidupan sukar mereka sekeluarga malah bilik kecil yang dilindungi almari di ruang tamu yang menjadi tempatnya untuk berehat manakala ruang tamu yang mampu memuatkan kira-kira empat orang itu menjadi bilik belajar tetapnya pada setiap hari.

Nik Nur Madihah pilih Jordan lanjutkan pelajaran

KUALA LUMPUR – Pelajar terbaik Sijil Pelajaran Malaysia (SPM) 2008, Nik Nur Madihah Nik Muhd. Kamal, 18, memilih Jordan untuk melanjutkan pelajaran di bawah biasiswa Bank Negara Malaysia.

Menurutnya, keputusan itu dibuat setelah melakukan solat Istikharah dengan memilih bidang Fizik Islam.

“Saya akan berlepas ke sana pada bulan Ogos atau September ini.

“Buat masa ini saya sedang membuat penyelidikan bersama pihak Bank Negara untuk memilih universiti terbaik dalam bidang Fizik Islam,” katanya.

Nik Nur Madihah berkata demikian pada sidang akhbar selepas melancarkan buku kisah hidupnya bertajuk Catatan Hati Nik Nur Madihah terbitan Hijjaz Records Publishing (HRP) di sini semalam.

Turut hadir pada majlis itu ialah ibu dan bapanya, Mariyani Omar dan Nik Muhd. Kamal Husin.

Nik Nur Madihah yang fasih berbahasa Arab memberitahu, dia masih tidak percaya kisah hidupnya dibukukan dan berharap pembaca akan mengambil ilmu dalam buku itu sebagai pengajaran dalam hidup.

Buku berharga RM25.90 itu akan mula dijual hari ini dan ia diterbitkan oleh Pengurus HRP, Faizal Osman dengan dibantu oleh Ummu Hani Abu Hassan.

semoga kejayaannya mampu menanamkan semangat untuk kita lebih berusaha dalam mencapai cita-cita. kemiskinan dan kemiskinan bukan halangan jika kita mahu mendapatkannya...yakinlah dengan pertolongan Allah, usaha itu tangga kejayaan

Usaha + Doa + Tawakkal = Kejayaan

Madhihah membuktikan yang agama bukan penghalang untuk mencapai apa yang diimpikan...semoga suatu hari nanti dia akan menjadi ahli fizik Islam yang dapat memperjuangkan agama Islam dalam kekalutan dunia kini.

tahniah kpd Madhihah...semoga berjaya menjadi mukminin sejati




Baca seterusnya......

Khamis, 16 April 2009

Jalan yang kamu pilih


Bayangkan...

Kamu sedang menuntut ilmu dengan seorang guru. Untuk pelajaran terakhir, kamu dikehendaki meredah hutan untuk sampai ke sebuah destinasi. Jika kamu sampai di sana, kamu akan memperoleh ganjaran yang banyak. Namun gurumu menyuruhmu berpatah balik jika kamu rasa tidak mampu melakukannya. Tapi, kamu akan gagal! Kamu meneruskan perjalanan di dalam hutan tersebut. Dalam perjalanan tiba-tiba kamu terjumpa seutas rantai emas. Begitu cantik, begitu mempesona...kamu yakin harganya begitu mahal sekiranya dijual kelak. Dalam kemilau sinarnya kamu keliru, adakah ingin mengambilnya atau membiarkan sahaja ia di situ. Terlintas di fikiran, alangkah ruginya benda berharga sebegitu dibiarkan sahaja di hutan sunyi sebegitu...lantas kamu mengambilnya. Kamu terus berjalan...dalam benakmu terbayang, adakah perbuatanmu itu wajar.

Tiba-tiba, sedang kamu menyusur hutan, kamu terjumpa pula sebilah kapak emas. Kamu tersenyum penuh makna. Mungkin inilah habuan yang dijanjikan guru kamu. Kamu nekad meneruskan perjalanan. Sedang berjalan, kamu terpandang di hadapanmu...hutan buluh yang belum terusik, kamu gagahi jua menempuh hutan buluh itu kerana membayangkan benda berharga yang bakal kamu terjumpa nanti. Apabila berjaya meredahnya, kamu terjumpa pula sekotak berlian yang berkilau-kilauan. Kamu bersorak gembira...mungkin inilah berkat kepatuhanmu selama ini ketika berguru. Tanpa kamu sedari, semua itu sebenarnya milik gurumu tadi. Sengaja diletakkan di situ untuk melihat sejauh mana kamu bertindak balas dengan harta dunia. Terpedaya jua dirimu akhirnya.


Kamu terus meneruskan perjalanan. Tapi alangkah terkejutnya dirimu, apabila di hadapanmu kini ialah pasir lumpur yang akan menelanmu sekiranya tersalah langkah...Kamu termenung, adakah mahu diteruskan perjalan ke hadapan atau pun berundur ke belakang. Relakah kamu memusnahkan dirimu sendiri? Jika mara, maut sebagai galang ganti...jika berundur, kamu akan rugi! Apabila terpandang mahligai tersergam indah di seberang lautan pasir lumpur...kamu merasa kamulah insan yang menolak tuah sekiranya tidak mara...tapi, bila difikirkan hidupmu hanya sekali...kamu gentar untuk meneruskannya.

Lantas, kamu bersandar di perdu pohon...sambil menelititi barang-barang berharga yang kamu telah miliki. Sesekali, pandanganmu teralih ke mahligai indah di seberang sana. Cubaan apakah ini? Mahal sangatkah harga sebuah kejayaan, hingga perlu dibayar dengan nyawa? Betapa zalimnya gurumu itu....syarat untuk lulus yang begitu menyeksa jiwa. Kamu termenung dan terus termenung. Akhirnya kamu bangkit, bukannya terus maju ke hadapan...tapi kamu berpatah balik ! Sambil tersenyum, kamu melangkah pulang ke rumah gurumu...kamu sudah bersedia menghadapi kegagalan...biarkan gurumu marah, kamu sudah tidak peduli. Hak perlu ditegakkan, gurumu bukan Tuhan!

Alangkah pelik, setibanya di rumah gurumu...kamu disambut dengan pelukan dan senyum terukir indah dibibirnya. Malah ucapan tahniah yang terpancul dari bibirnya. Adakah itu satu penghinaan? Atau memang ikhlas seperti sifatnya?

“Maafkan saya Tuk, saya telah memilih kegagalan”. Ujarmu jujur.
“Tahniah, kamu telah berjaya....” Jawabnya senang sambil menggosok belakangmu.
“ Berjaya?”. Soalmu hairan.

“ Tenang anakku...biar Tuk jelaskan. Tidak semestinya kegagalan kita adalah kegagalan. Pada zahirnya, kita memang gagal...tapi pada batinnya, kita ialah juara. Ramai murid Tuk yang tamak, mereka telah gagal untuk mencari setitis sinar iman dalam hatinya. Mana mungkin mereka mampu menyeberang pasir lumpur itu. Kamulah satu-satunya yang telah kembali...datuk senang sekali. Kamu tidak tertarik dengan harta dunia”. Gurumu berhenti seketika.

“Pada mulanya datuk yakin, kamu juga mengambil apa yang bukan milikmu di jalanan tersebut. Tapi akhirnya, kamu sedar yang kamu telah melakukan kesilapan...lalu mengembalikan semuanya ke tempat asalnya. Kamu berani menghadapi kegagalan dengan pulang kembali...tapi kamu sebenarnya telah berjaya. Ketahuilah anakku, harta dan kesenangan dunia yang diperoleh dengan cara yang salah sekali-kali tidakkan mempu membayar singgahsanamu di syurga kelak walau bertimbun banyaknya”. Sambungnya lagi.

Begitulah umpamanya ujian iman yang selalu Allah timpakan ke atas diri kita. Allah tidak membebankan seseorang melainkan di atas kesanggupannya...hadapilah ia dengan iman dan takwa, kerana ia adalah penentu kejayaan kita yang sebenar. Usah sedih bila kegagalan menimpa, kerana tiada manusia yang beriman yang tidak diuji.


Sesuatu yang selalu membuat kita sedih...
 Kita sedih bila kita dikeji dan dihina kerana tidak mengikut arus pemodenan dunia, tapi sebenarnya Allah lebih sayangkan kita bila kita tidak tersasar jauh untuk mencapai tahap moden.
 Betapa kita sedih kerana kita gagal dalam memiliki sesuatu yang kita idamkan dan kita hajatkan. Sebenarnya itu semua adalah lebih baik dari kita memiliknya dengan cara yang salah.  Kita malu untuk mengaku kita salah, sedangkan itulah yang terbaik dalam menjamin kehidupan yang lebih baik.
 Kita gagal dalam peperiksaan setelah mencuba sedaya upaya kerana ujiannya terlampau sukar. Tapi kita terkilan kerana semua kawan kita berjaya kerana meniru. Sebenarnya, kita jauh lebih berjaya dari mereka dalam ujian nafsu.

Begitulah yang dialami si pemuda, dia menolak segala hak yang bukan miliknya walaupun kegagalan adalah gantinya... Tapi, dia yakin itu adalah yang terbaik untuk mendapatkan keredhaan Tuhan. Setelah tahu dia mengambil yang bukan haknya dan melakukan sesuatu yang silap, dia kembali ke pangkal jalan...menyesali apa yang telah berlaku. Jika dia meneruskan perjalanan tersebut, adakah jaminan untuk dia terus hidup?


Moralnya:
 Kegagalan akan membantu kita mencari di mana kesilapan diri

 Nilai sebuah kejayaan akan menjadi lebih manis bagi mereka yang pernah menghadapi kegagalan.

 Kasih-sayang Allah lebih bernilai dari kesenangan dunia.
 Sesuatu kesenangan yang diperoleh oleh orang kaya dengan cara yang salah adalah lebih hina dari si fakir yang mereka anggap hina di tepi-tepi jalan.
 Belajarlah menerima kekalahan, kerana kalah di dunia belum tentu kalah di akhirat


Apakah yang lebih penting, nikmat dunia ataupun nikmat akhirat?


Baca seterusnya......

Wanita Teladan Sepanjang Zaman

1) Cinta Sepanjang Masa

Dia adalah wanita yang terus hidup dalam hati suaminya walaupun dia telah meninggal dunia. Tahun yang terus berganti tidak dapat mengikis kecintaan suami kepadanya. Panjangnya masa tidak dapat menghapus kenangan bersamanya di hati suami. Bahkan sang suami terus mengenangnya dan bertutur tentang tabahnya dalam menghadapi ujian, kesulitan dan musibah yang dihadapi. Sang suami terus mencintainya dengan kecintaan yang mendatangkan rasa cemburu dari isteri yang lain, yang dinikahi selepas kematiannya.

Suatu hari isteri baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain (yakni ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha) berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti cemburuku pada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyebutnya.” (HR. Bukhari)


Ya, dialah Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushai. Dialah wanita yang pertama kali dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bersamanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membina rumah tangga harmonis yang terbimbing dengan wahyu di Makkah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berkahwin dengan wanita lain sehingga dia meninggal dunia.

Saat berkahwin, Khadijah radhiyallahu ‘anha berusia 40 tahun sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia 25 tahun. Saat itu dia merupakan wanita yang paling terpandang, cantik dan sekaligus kaya. Ia berkahwin dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lain kerana mulianya sifat baginda, kerana tingginya kecerdasan dan indahnya kejujuran beliau. Padahal saat itu sudah banyak para pemuka dan pemimpin kaum yang hendak menikahinya.

Dia adalah wanita terbaik sepanjang zaman. Ia selalu memberi semangat dan kebebasan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencari kebenaran. Dia sendiri yang menyiapkan bekal untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat baginda menyendiri dan beribadah di gua Hira’. Seorang pun tidak akan lupa perkataannya yang masyhur yang menjadikan Nabi merasakan tenang setelah ketakutan dan merasa bahagia setelah bersedih hati ketika turun wahyu pada kali yang pertama, “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Kerana sungguh engkau suka menyambung silaturahim, menyelesaikan masalah orang yang lemah, membantu orang yang tidak berdaya, menjamu dan memuliakan tamu dan engkau menolong sedaya upaya menegakkan kebenaran.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Pun begitu, saat suaminya menerima wahyu yang kedua berisi perintah untuk mula berjuang mendakwahkan agama Allah dan mengajak pada tauhid, dia adalah wanita pertama yang percaya bahawa suaminya adalah utusan Allah dan kemudian menyatakan keislamannya tanpa ragu-ragu dan bimbang walau sedikit pun.

Khadijah termasuk salah satu nikmat yang Allah anugerahkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mendampingi baginda selama seperempat abad, menyayangi baginda di kala resah, melindungi baginda pada saat-saat yang kritis, menolong baginda dalam menyebarkan risalah, mendampingi baginda dalam menjalankan jihad yang berat, juga rela menyerahkan diri dan hartanya pada baginda. (Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury di dalam Sirah Nabawiyah)

Suatu kali ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selepas baginda menyebut-nyebut Khadijah, “Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita lain selain Khadijah?!” Maka beliau berkata kepada ‘Aisyah, “Khadijah itu begini dan begini.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Ahmad pada Musnad-nya disebutkan bahawa yang dimaksud dengan “begini dan begini” adalah sabda baginda, “Ia beriman kepadaku ketika semua orang kufur, ia membenarkan aku ketika semua orang mendustakanku, ia melapangkan aku dengan hartanya ketika semua orang mengharamkan (menghalangi) aku dan Allah memberiku rezeki berupa anak darinya.” (Mazin bin Abdul Karim Al Farih dalam kitabnya Al Usratu bilaa Masyaakil)

Oleh sebab itu , jika kalian ingin hidup di dalam hati suamimu maka sertailah dia dalam mencintai dan menegakkan agama Allah, sertailah dia dalam suka dan dukanya. Jadilah kalian seperti Khadijah hingga kalian kelak mendapatkan apa yang dia dapatkan. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Jibril mendatangi nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, inilah Khadijah yang datang sambil membawa bekas yang di dalamnya ada lauk atau makanan atau minuman. Jika dia datang, sampaikan salam kepadanya dari Rabb-nya, dan sampaikan khabar kepadanya tentang sebuah rumah di syurga, yang di dalamnya tidak ada suara hiruk pikuk dan keletihan.”

Mahukah kalian menjadi Khadijah yang berikutnya?

2) Juru Bicara Kaum Wanita


Tahukah kalian siapa beliau? Beliau adalah Asma’ binti Yazid bin Sakan bin Rafi’ bin Imri’il Qais bin Abdul Asyhal bin Haris Al-Anshariyah Al Ausiyyah Al Asyhaliyah. Wanita mulia di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang berbai’at kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun pertama Hijriyah, aitu dalam bai’at Aqabah.

Asma’ radhiallahu ‘anha adalah termasuk sahabiah Ansar yang pertama masuk Islam yang ilmu pengetahuannya sangat luas. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr bahawa Asma’ adalah seorang wanita yang cerdas dan bagus agamanya. Asma’ ikut aktif mendengar hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sering bertanya tentang persoalan-persoalan yang menjadikan dia faham urusan agama. Oleh kerana itu, dia menjadi ahli hadits yang mulia, sehingga mendapat julukan “juru bicara wanita”. Asma’ dipercayai oleh kaum muslimah sebagai wakil mereka untuk berbicara dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang persoalan-persoalan yang mereka hadapi.

Suatu ketika Asma’ mendatangi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah yang di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan wanita, kemudian kami beriman kepada anda dan membai’at anda. Namun begitu kami para wanita terkurung dan terbatas dari segi pergerakan kamu. Kami menjadi pengurus rumah tangga kaum laki-laki dan kami adalah tempat menyalurkan syahwatnya. Kamilah yang mengandung anak-anak mereka. Akan tetapi kaum laki-laki mendapat keutamaan melebihi kami dengan salat Jumaat, menghantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka dan mendidik anak-anak mereka. Maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh kepada para sahabat dan bersabda, “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang agama yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”
Para sahabat menjawab, “Benar, kami belum pernah mendengarnya ya, Rasulullah!”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah wahai Asma’ dan beritahukan kepada para wanita yang berada di belakangmu, bahawa perlakuan baik salah seorang di antara mereka kepada suaminya, usahanya untuk mendapat keredhaan suaminya, dan ketundukannya untuk sentiasa mentaati suami, itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum laki-laki.”
Maka kembalilah Asma’ sambil bertahlil dan bertakbir merasa gembira dengan apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim)

Kita lihat begitu semangatnya para sahabiah, hatinya sentiasa bergantung kepada akhirat. Tidaklah yang ia cita-citakan dalam seluruh amalnya kecuali redha Allah Ta’ala sehingga dia merasa sangat gembira ketika diberitahu bahwa tugas yang selama ini dia lakukan pahalanya menyamai amalan kaum laki-laki yang sangat berat. Sungguh hal ini menunjukkan kemurahan Allah kepada hamba-Nya.

Asma’ juga pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara mandi haid, sebagaimana telah diriwayatkan dari ‘Aisyah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah seorang di antara kamu menyiapkan air dan air perasa bidara. Kemudian bersucilah dengannya dan memperelok cara bersucinya. Kemudian menuangkan air ke atas kepalanya dan hendaklah ia menggosoknya dengan gosokan yang kuat hingga membasahi akar-akar rambutnya, lalu menuangkan air ke atasnya. Kemudian hendaklah ia mengambil sepotong kapas yang telah dibubuh minyak wangi, lalu bersihkanlah dengannya.”
Lalu Asma’ bertanya lagi, “Bagaimana membersihkannya dengan kapas?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Subhanallah, bersihkanlah dengannya.”

‘Aisyah berkata, seolah-olah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan hal ini (karana malu), “iaitu engkau membersihkan darah padanya.” (HR. Bukhari Muslim)
Begitulah saudariku, para sahabiah sangat bersemangat untuk mencari ilmu agama. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk bertanya. Kerana mereka tahu, hanya dengan ilmu, amalan mereka akan bernilai (mendapat pahala) di sisi Allah. Benarlah perkataan ‘Aisyah bahawa sebaik-baik wanita adalah wanita Ansar, mereka tidaklah terhalang oleh rasa malu untuk mendalami urusan agama. (HR. Muslim)

Tentunya, kita ingin menjadi wanita terbaik bukan? Maka, contohlah para sahabiah. Belajarlah ilmu agama kerana dengannya darjat kita akan ditinggikan dan jalan menuju syurga akan dimudahkan. Semoga Allah senantiasa memudahkan bagi kita jalan menuju Ilmu. Aamiin.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa darjat.” (Qs. Al Mujadilah:11)
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya, dengan hal itu, jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

3) Mahar Paling Mulia

Sejarah telah berbicara tentang berbagai kisah yang boleh kita jadikan pelajaran dalam menapak kehidupan. Sejarah pun mencatat perjalanan hidup para wanita muslimah yang teguh dan setia di atas keislamannya. Mereka adalah wanita yang kisahnya terukir di hati orang-orang beriman yang keterikatan hati mereka kepada Islam lebih kuat daripada keterikatan hatinya terhadap kenikmatan dunia. Salah satu di antara mereka adalah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najar Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah. Beliau dikenal dengan nama Ummu Sulaim.

Siapakah Ummu Sulaim ?

Ummu Sulaim adalah ibunda Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal keilmuannya dalam masalah agama. Selain itu, Ummu Sulaim adalah salah seorang wanita muslimah yang dikabarkan masuk syurga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari kalangan Ansar yang telah teruji keimanannya dan konsistensinya di dalam Islam. Kemarahan suaminya yang masih kafir tidak menjadikannya gentar dalam mempertahankan aqidahnya. Keteguhannya di atas kebenaran menyebabkan suaminya pergi dari sisinya. Namun, kesendiriannya mempertahankan keimanan bersama seorang puteranya telah berbuah kesabaran sehingga keduanya menjadi bahan pembicaraan orang yang takjub dan bangga dengan ketabahannya.

Dan, adakah kalian tahu?

Kesabaran dan ketabahan Ummu Sulaim telah menyemikan perasaan cinta di hati Abu Thalhah yang saat itu masih kafir. Abu Thalhah memberanikan diri untuk melamar beliau dengan tawaran mahar yang tinggi. Namun, Ummu Sulaim menyatakan ketidaktertarikannya terhadap gemerlapnya pesona dunia yang ditawarkan kepadanya. Di dalam sebuah riwayat yang sanadnya sahih dan memiliki banyak jalan, terdapat pernyataan beliau bahwa ketika itu beliau berkata, “Demi Allah, orang seperti anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mahu masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” (HR. An-Nasa’i VI/114, Al Ishabah VIII/243 dan Al-Hilyah II/59 dan 60). Akhirnya menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah dengan mahar yang teramat mulia, iaitu Islam.

Kisah ini menjadi pelajaran bahawa mahar sebagai pemberian yang diberikan kepada isteri berupa harta atau selainnya dengan sebab pernikahan tidak selalunya dengan wang, emas, atau segala sesuatu yang bersifat keduniaan. Namun, mahar boleh berupa apapun yang bernilai dan diredhai isteri selama bukan perkara yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesuatu yang perlu kalian tahu, berdasarkan hadits dari Anas yang diriwayatkan oleh Tsabit bahwa Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, “Aku belum pernah mendengar seorang wanita pun yang lebih mulia maharnya dari Ummu Sulaim kerana maharnya adalah Islam.” (Sunan Nasa’i VI/114).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang kita untuk bermahal-mahal dalam mahar, di antaranya dalam sabda baginda adalah: “Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” (HR. Ahmad) dan “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (HR. Abu Dawud)

Demikianlah…
Semoga kisah ini menjadi sesuatu yang bererti dalam kehidupan kita dan menjadi jalan untuk meluruskan pandangan kita yang mungkin keliru dalam memaknai mahar. Selain itu, semoga.

4) Wanita Yg Aduannya di Dengar dari Langit Ketujuh

Beliau adalah Khaulah binti Tsa’labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa’labah Ghanam bin Auf. Suaminya adalah saudara dari Ubadah bin Shamit, iaitu Aus bin Shamit bin Qais. Aus bin Shamit bin Qais termasuk sahabat Rasulullah yang selalu mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peperangan, termasuk perang Badar dan perang Uhud. Anak mereka bernama Rabi’.

Suatu hari, Khaulah binti Tsa’labah mendapati suaminya sedang menghadapi suatu masalah. Masalah tersebut kemudian memicu kemarahannya terhadap Khaulah, sehingga dari mulut Aus terucap perkataan, “Bagiku, engkau ini seperti punggung ibuku.” Kemudian Aus keluar dan duduk-duduk bersama orang-orang. Beberapa lama kemudian Aus masuk rumah dan ‘menginginkan’ Khaulah. Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam (iaitu dhihaar). Khaulah berkata, “Tidak… jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku kerana engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkan terhadapku sampai Allah dan Rasul-Nya memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.”

Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta fatwa dan berdialog tentang peristiwa tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan dengan urusanmu tersebut… aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.” Sesudah itu Khaulah senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Beliau berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku mengadu tentang peristiwa yang menimpa diriku.” Tiada henti-hentinya wanita ini ini berdo’a hingga suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pengsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sadar, beliau bersabda, “Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan ayat Al-Qur’an tentang dirimu dan suamimu.” kemudian beliau membaca firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat…..” sampai firman Allah: “Dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang pedih.” (QS. Al-Mujadalah:1-4)
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarah dhihaar, yaitu memerdekakan budak, jika tidak mampu memerdekakan budak maka berpuasa dua bulan berturut-turut atau jika masih tidak mampu berpuasa maka memberi makan sebanyak enam puluh orang miskin.

Inilah wanita mukminah yang dididik oleh islam, wanita yang telah menghentikan khalifah Umar bin Khatab saat berjalan untuk memberikan teguran dan nasihat kepadanya. Dalam sebuah riwayat, Umar berkata, “Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasihatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah datang waktu salat maka aku akan mengerjakan salat kemudian kembali untuk mendengarkannya hingga selesai keperluannya.”

Alangkah bagusnya akhlaq Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan hanya kepada Allah Ta’ala. Beliau berdoa tak henti-hentinya dengan penuh harap, penuh dengan kesedihan dan kesusahan serta penyesalan yang mendalam. Sehingga doanya didengar Allah dari langit ketujuh.

Allah berfirman yang artinya, “Berdoalah kepada-Ku, nescaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah (berdoa) kepada–Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mu’min: 60)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang ertinya, “Sesungguhnya Rabb kalian Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi itu Maha Malu lagi Maha Mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya jika hamba-Nya mengangkat kedua tangannya kepada-Nya untuk mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Baca seterusnya......

Rabu, 15 April 2009

Pesan Seorang Teman

Kedamaian ku temui bersamamu


Assalamualaikum Wbt...


Sebenarnya, tiada yang istimewa untuk dikongsi ... tangan pun belum terbiasa dalam arena penulisan blog ini, pertama kali menulis....masih terkial-kial lagi :) Hajat di hati, ingin mengulangkaji, tapi sudah "termalas" ... terbabas ke sini sekejap.

Syukur ke hadrat Ilahi, dalam sedar tak sedar...dah lama rupanya diri ini menumpang di bumi Allah ini, sudah mencecah 23 tahun rupanya....tapi amal entahkan ada entahkan tidak. Hanya RahmatMU yg ku damba Ya Allah. Malunya pada diri sendiri... rasa-rasanya tiada apa yang diri ini lakukan untuk memperjuangkan agama Tuhan...membantu ummat manusia, untuk diri sendiri pun banysk lagi yang kurang...

Indahnya pagi ini, alhamdulillah...masih diberi peluang menghidup udara segar...sebenarnya yang lebih penting, alhamdulillah kerana masih diberi peluang untuk menyedari dan memperbaiki diri. Sibuknya di dunia, bagaimana pula nasib di sana....di manakah agaknya. Ya Allah, aku tak layak masuk syurgaMU namun aku tak sanggup ke nerakaMU...dgn rahmatMU, ampunkan daku Ya Allah.

Dalam melayari bahtera kehidupan, kadang-kadang dirasa muara yang direntas beriak kecil...kadang-kadang beralun ganas, maka perlunya mata angin utk membetulkan arah agar tidak tersasar. Keyakinan kepada bantuan Allah maha penting, tetapi usaha untuk menstabilkan bahtera adalah perlu kerana sebelum bertawakkal kepadaNya...harus diiringi dengan usaha terlebih dahulu.

Terima kasih tak terhingga untuk seorang teman yg panjang lebar bertazkirah untuk santapan rohani malam tadi...jasamu ku kenang. ...terima kasih sekali lagi kerana membantuku dalam menuju destinasi...Allah jualah yang mampu membalasnya.

  1. 'Berkata benarlah walaupun ianya pahit'
  2. Jgn malu utk mengakui kesilapan diri.... cuba tanamkan harapan utk memperbaikinya...kita manusia, memang tak lepas dari kesilapan. Yg penting,berusaha utk mengubahnya...
Betapa bernilainya alunan nasihat yang menyapa jiwa mengingatkan diri ini kepada hakikat kejadian takkala jiwa terleka....bukan tidak menyedari hakikat itu, tetapi kadang-kadang terlupa, terleka dibuai rasa....yang hak tetap hak,yang batil tetap batil, ku akui itu teman...tapi kadang-kadang terlalu menjaga hati insan-insan sekeliling, sedang sebenarnya aku yang perlu dikasihani....melanggar peraturan Tuhan, apa ertinya hina di mata manusia, jika dibandingkan hina di mata Tuhan.

Diingatkan sebegini, malunya diri sebagai hamba...terlalu mengikut kata hati, sedang sebenarnya ia menghancurkan diri sendiri. (kata-katamu akan ku semat kukuh di jiwa). Terima kasih teman...

Maryam Aulia
Jumaat 10/04/09

Baca seterusnya......